Saturday, April 8, 2017

Episode 14 Novel Rainbow Star

*      MENGHADAPI GAVIN
           


            Seluruh keping bintang hitam akhirnya berhasil disatukan, terjadi pancaran sinar yang begitu menyilaukan mata ketika kakek Jerolin menyatukan seluruh keping.

            29 hari telah terlewati, tidak ada pergantian malam di bumi karena pengaruh kejahatan dari Gavin. Waktu mereka untuk menyelamatkan dunia kurang dari satu hari, hanya tinggal beberapa jam saja.

            Dari jarak jauh, dapat terlihat patung itu. Patung gorilla hasil kerja keras monyet-monyet anak buah Gavin sudah hampir selesai. Monyet-Monyet itu sudah sibuk menyempurnakan bentuknya. Patung gorilla raksasa dengan dua tangan gagah di depan, berwarna hitam pekat, dan bermulut terbuka dimana gigi-gigi runcing terlihat menyeramkan itu seakan mampu menelan bulat-bulat sebuah gunung setinggi apapun juga, membuat mata dari kelima anak pemegang Rainbow star terbelalak dan bergidik ngeri.

            “Astaga..” Kosmo menelan ludah melihatnya. Wajah Kosmo terlihat pucat, tapi warna pucat itu nampak bukan seperti pucat ketakutan. Ada hal lain yang membuat wajah anak laki-laki gemuk itu terlihat lemah.

            “Apa yang akan terjadi jika patung gorilla itu selesai?” Andet bertanya ke kakek Jerolin.

            “Ia akan mengisap seluruh roh manusia yang terkurung di dalam patung... Kalau itu terjadi, artinya tamatlah nasib bumi... Bumi akan dikuasai oleh seluruh gorilla..”

            “Haiyaa.. Jangan sampai, jangan sampai hal itu terjadi..”

            Andet meremas tangan erat, kebenciannya kepada Meara masih bersemayam di hatinya.
            Tanpa banyak berkata lagi mereka pun berangkat menuju ke tempat kediaman Gavin. Jerolin menunggangi Lion bersama dengan Feri.

            Dari udara terlihat perkumpulan monyet rapat di bawah, seakan kumpulan semut. Sialnya pula, ketika dalam perjalanan, segerombolan monyet terbang datang menyergap. Dabo mendapat serangan mendadak, membuat Dabo hilang konsentrasi untuk terbang, akibatnya Dabo mengecil dan mereka berdua terjatuh. Dan rupanya Kosmo dan Dabo telah hilang kesadaran.

            “Kosmo... “ Ling-ling berteriak, menyuruh Fly-Fly untuk menyusul Kosmo dan menyelamatkan mereka. Tidak perlu diperintah kedua kali Fly-Fly meluncur cepat ke bawah membelah udara. Yang lainnya menyusul sembari terus melawan monyet-monyet terbang menggunakan kekuatan masing-masing.

            Beruntung Kosmo mampu disambar oleh Fly-Fly dan Ling-ling berhasil menangkap Dabo.

***

            “Apa yang terjadi..?” Feri bertanya setelah Kosmo diletakkan ke darat. Kosmo dan Dabo tidak sadarkan diri, tubuh mereka perlahan menghitam. Kakek Jerolin memeriksa, menyentuh wajah gembung Kosmo, melihat tangan Kosmo.

            “Dia terkena racun milik kraken..” Kakek Jerolin akhirnya berkata.

            Rupanya disaat Kosmo  menghadapi Kraken waktu itu, tinta racun telah bersarang di dalam darah Kosmo melalui percikan kecil itu. Karena Kosmo tidak sadarkan diri, akibatnya merembet pula pada Dabo.

            “Haiya..Lalu apa yang harus kita lakukan..?” Ling-Ling sedikit panik. Ling-Ling memang sudah semakin akrab dengan mereka semua, kecual Andet. Walaupun demikian sesungguhnya Ling-Ling menaruh hati pada pria berambut panjang dan bersikap dingin itu.

            “Kita tinggalkan saja dia..” Andet berkata datar. Kembali mengeluarkan pedang hendak menyerang monyet-monyet yang mulai kembali mendatangi mereka. Dan kali ini jumlahnya tidak sedikit, tapi ribuan ekor, memenuhi tanah lapang berumput disitu.

            “Haiyaa..” Ling-Ling gemetar, perhatiannya telah beredar ke gerombolan monyet. Gerombolan monyet semakin merapat.

            “Walau bagaimanapun, kita tidak bisa meninggalkan Kosmo. Mengorbankan satu nyawa seorang teman, sama halnya telah membunuh seluruh penduduk bumi..” Kakek Jerolin berkata sembari memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Kosmo.

            “Aku tahu sebuah tanaman yang mampu menghilangkan racun... Namun aku perlu konsentrasi tinggi untuk menghadirkannya, dapatkah kalian melindungi kami..?” Vera berkata.

            “Kalau urusan itu serahkan kepada kami, dan urusan Kosmo kami serahkan kepada kamu, Vera..” Feri berkata. Mengeluarkan toya dan siap menyerang.

Feri, Ling-Ling, Andet dan Jerolin berdiri dari setiap sudut melindungi Vera dan Kosmo yang berada di tengah. Vera berkonsentasi penuh, pikirannya mencoba mengingat bagaimana rupa tanaman obat itu.

            Andet, Kosmo, Jerolin, dan Ling-Ling sudah mulai menghadapi ribuan monyet. Mereka menyerang menggunakan kekuatan masing-masing. Jerolin merubah dirinya menjadi kucing, dan memberikan gigitan serta cakaran ke arah monyet-monyet, gigitan dan cakaran itu bukanlah cakaran dan gigitan biasa, kuku dan gigi-gigi tajam kucing tua itu mampu membunuh satu monyet hanya dengan beberapa kali serangan.

            Andet menebaskan pedang, meskipun Andet belum terlalu mampu mengendalikan petir dalam pedang itu, ia berhasil membunuh puluhan monyet dalam sekali tebasan, petir menyambar ke banyak musuh. Tak hanya dengan pedang, kekuatan api juga Andet hembuskan untuk melawan monyet-monyet yang seakan tak pernah habis.

            Feri menembakkan bola-bola tanah, tak hanya mengandalkan kekuatan tanah Andet pun lincah memutar toya, menghantam monyet-monyet itu. Sejauh ini belum ada diantara kumpulan monyet yang mampu mencakarnya.

            Ling-Ling tak mau ketinggalan, kekuatan air yang dikeluarkannya telah berhasil membunuh beberapa monyet. Kipaspun ia mainkan, anak-anak panah dari hembusan kipas juga menembus tubuh dari beberapa monyet.

***

            Kehadiran monyet-monyet seakan tak pernah henti. Setelah beberapa monyet dibunuh dan menghilang, beberapa ekor monyet kembali berdatangan. Monyet-monyet kecil itu memang bukanlah musuh yang tangguh bagi mereka. Tapi menghadapi musuh secara terus menerus seperti ini membuat tenaga dalam mereka mulai terkuras.

            Sementara itu Vera masih berkonsentrasi untuk mengeluarkan tanaman obat. Bukan perkara mudah bagi Vera dalam menghadirkan tanaman obat itu. Karena ini kali pertama Vera mencoba mengeluarkan tanaman yang berbeda.

            Bulir-bulir keringat mulai membasahi pelipis wanita tomboy itu. Kedua tangan ia tangkupkan. Dan akhirnya beberapa lembar daun tanaman obat muncul di tangannya.  “Aku membutuhkan air..” Vera berkata dalam hati. Ia ingat bahwa masih menyimpan air dalam botol kecil di kantongnya yang diambil di dalam piramida. Vera mengambilnya, dan memasukkan daun obat ke dalam air. Ketika obat itu baru hendak dimasukkan ke dalam mulut kosmo. Suara tertawa (jahat) terdengar dari atas, semuanya mendongak, perlawanan gerombolan monyet terhenti sejenak, bersujud. Di atas sana terlihat satu ekor monyet besar bersayap, namun bukan itu yang menjadi perhatian, terutama bagi kakek Jerolin. Melainkan seseorang yang berada di punggungnya, dialah Gavin si Gorilla berkepala tiga yang tengah berwujud kakek tua berpakaian hitam sepenuhnya. Angin berhembus kencang tiba-tiba datang seakan menyambut kehadiran makhluk tersebut. Tatapan matanya sangat menyeramkan.

            “Makhluk-Makhluk menyedihkan.. Percuma saja kalian melakukan apapun.. Dunia ini sudah tamat..” Gavin berkata dengan nada berat.

            “Apakah dia yang bernama Gavin?” Andet berkata dalam hati.

            “Gavin, kenapa kau melakukan semua ini..?” Jerolin bertanya. Sudah lama ia tidak bertatapan langsung dengan teman lamanya itu.

            Gavin memandangi sejenak sahabat lamanya itu, dan membuka bibirnya “Ada banyak hal yang tak kau kau pahami, Jerolin. Kau merupakan hewan yang berbeda denganku. Kau adalah kucing rendahan, tidak mempunyai keluarga. Sementara aku, aku mempunyai keluarga..” Gavin melompat dari punggung monyet raksasa terbang, “Dan Meara mengacaukan itu semua..” Gavin berkata penuh kebencian setelah sampai di bawah.

            Seakan disambar petir, Jerolin sungguh terkejut mendengar perkataan sahabat lamanya itu. Bukan tentang penghinaan Gavin, tapi tentang kalimat terakhir Gavin.

            “Mengacaukan..? Apa maksudmu dengan mengacaukan..?” Jerolin tidak mengerti.
            “Semenjak Meara menempelkan bintang di keningku, semenjak itulah cerita dalam hidupku berubah.. Semua keluargaku menjauh karena rupaku yang berbeda.. Mereka pergi meninggalkanku dengan alasan ketakutan..”

            Jantung Andet berdenyut kencang saat mendengarkan perkataan Gavin barusan, itu semua sama seperti yang pernah ia rasakan. Yah, Andet merasa kalau nasib mereka sama. Andet merasa kalau perasaan dirinya dengan Gavin mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama membenci Meara.

            Sementara di pikiran Ling-Ling, Vera dan Feri penuh kebingungan, bukankah kakek Jerolin mengatakan kalau Gavin melakukan semua ini karena keserakahan? Kalau yang dikatakan Jerolin adalah salah, itu berarti Gavin melakukan ini semua demi membalas dendam.

            “Jika Gavin melakukan semua ini benar karena balas dendam, akan lebih sulit menghadapinya.. Biasanya kekuatan si pembalas dendam akan jauh lebih kuat dibanding kekuatan si serakah.. “ Pikir Feri.

            “Itulah mengapa berhati-hatilah dalam menyakiti seseorang..” Lion menyahut dalam bisikan hati.

            “Oi-Oi kenapa kau ikut-ikutan bicara...” Feri berkata kesal di dalam hati.

            “Ini bukan salah aku Feri, kau merupakan satu-satunya pemegang Rainbow Star yang mampu berbicara dengan zoodam melalui kata hati. Itu menjadi resiko untukmu..”

            Feri mengembuskan napas panjang, tak merasa senang akan kelebihannya yang satu ini.

            “Sebentar lagi... Sebentar lagi impianku akan terselesaikan... Kau lihat Jerolin, bisakah kau lihat, Patung Gorilla itulah yang akan mengantarkanku pada impian. Tinggal beberapa jam lagi, manusia dibumi akan musnah.. Ha..ha..ha “ Gavin tertawa penuh kemenangan. Namun tidak beberapa lama tawa itu dibungkam, rupanya ada sebuah tongkat telah menembus lengan kirinya tanpa ia sadari. Mata Jerolin penuh kemarahan, pandangannya beralih ke arah yang telah menyerangnya. Adalah Feri yang melakukannya, Feri memanjangkan tongkat, tersenyum meremehkan.

            “Masih mau tertawa, hah..?” Feri mengangkat kedua alis, menarik toya kembali. Ling-Ling menahan tawa menyaksikannya. Gavin melirik sekejap tangannya yang telah banjir darah. Berteriak kencang penuh kemarahan, ia langsung merubah dirinya menjadi gorilla berkepala tiga.

            “Haiya.. Kau memacing kemarahannya Feri..” Ling-Ling bergidik ngeri, tidak ingin tertawa lagi.

Lautan monyet mulai beraksi kembali, menyerbu mereka.

            “Kau lanjutkan menyelamatkan Kosmo, Vera. Kami akan melindungimu..” Kakek Jerolin berkata. Maju menghadapi Gavin. Vera mengangguk, konsentrasi kembali untuk menyembuhkan Kosmo. Ia memberikan ramuan ke mulut kosmo, lantas keduatangannya ia letakkan di kening Kosmo, mengandalkan energi Aerokinesis untuk mempercepat proses ramuan itu dalam menyembuhkan. Grin ikut menyumbangkan energinya ke zoodam milik Kosmo.

            Seluruh Zoodam lainnya memperbesarkan ukuran, membantu menghadapi ribuan monyet.

            Sementara itu Jerolin dan Gavin bertarung secara sengit, Jerolin menyadari bahwa dirinya tidak akan sanggup melawan Gavin. Terbukti ketika ia pertama kali menyerang, Gavin sudah terlebih dahulu mengantamkan pukulan ke kucing tua itu. Namun Jerolin tak mau menyerah, ia tak bisa terus membiarkan kejahatan yang dilakukan oleh Gavin. Jerolin tidak bisa mengenai sedikitpun kulit Gavin, ia hanya mampu menangkis. Hingga serangan berikutnya Jerolin terkena tinjuan, ia terpental jauh membelah udara.

            “Kakeekkk!!”  Pandangan  Feri mengarah ke kakek Jerolin, hanya saja ia lengah, karena itu monyet di belakangnya sudah  nyaris mencakar, beruntung Lion menolong dengan kekuatan Terrakinesisnya. Feri yang melihat kakek Jerolin cepat membuat dinding tanah untuk menahan. Jerolin melenguh kesakitan. Bintang hitam terpelanting dari kantongnya, Jerolin kembali meraih bintang itu, tangannya gemetaran. “Bintang hitam ini harus cepat di letakkan di kening Gavin..” katanya.

            Gavin sudah berhadapan dengan Feri, sama halnya seperti Jerolin barusan, ia pun kewalahan menghadapi makhluk berbulu lebat itu, berulang-ulang Feri melontarkan bola-bola tanah, namun hal tersebut gampang sekali ditangkis oleh tangan gempal si Gorilla berkepala tiga itu. Gavin mengaung ganas, ketiga mulutnya menampakkan gigi-gigi runcing. Sebagai balasan serangan oleh Feri barusan, Gavin mulai melakukan sesuatu... Dari ketiga mulutnya memancarkan bongkahan cahaya merah. Tidak berselang lama, bongkahan cahaya ia lontarkan ke udara. Tiga cahaya itu melayang tinggi. Turun perlahan, dan menyentuh tiga dari ribuan monyet. Terjadi sesuatu pada ketiga monyet itu, ketiganya menyatu dan akhirnya menjadi seekor monyet raksasa. Ribuan monyet kecil hilang semuanya, Gavin tertawa penuh kemenangan dalam wujud manusianya kembali.

            “Aku tidak akan menghabiskan waktu bersama kalian..” Ia meloncat ke punggung monyet terbang lagi, “Silahkan kalian semua bermain-main besama monyet peliharaanku yang satu itu..” Lantas Gavin terbang menjauh..


            Ling-Ling, Feri Andet, dan Jerolin tercengang melihat monyet raksasa itu.

BACA episode 13 DISINI

Episode 13 Novel Rainbow Star

*      BANTUAN DATANG - 2
           


            Kipas dibuka oleh Ling-Ling, dengan segera ia langsung menyerang Tengu. Beberapa anak panah meluncur bersama angin dari kipas menghampiri musuh. Namun, dengan kecepatan kilat Tengu wanita elang menghindar. Tak mau menyerah, kembali Ling-Ling meluncurkan serangan, dan lagi-lagi mampu dihindari oleh Tengu.

            “Kecepatannya benar-benar mengagumkan..” Ling-Ling mendesis. Sedangkan tubuhnya seakan membeku, udara semakin terasa dingin. Bulir-Bulir salju terus berjatuhan. Sesekali anak wanita bermata sipit itu terjerambab jatuh, namun ia kembali berdiri.

            Tengu membalas serangan, kedua sayap dikepakkan, jarum-jarum kecil muncul dari kepakan itu, meluncur ke arah Ling-Ling. Beruntung Ling-Ling mampu menghindar. Jarum-Jarum kecil mendarat di lantai es.

            Ling-Ling merasa bahwa musuhnya yang berupa wanita elang itu begitu kuat, ia seakan-akan melihat sosok tersebut adalah Vera. Yah, dalam tahap latihan Ling-Ling sebetulnya sering memperhatikan Vera si Wanita tomboy itu, menyelip sebuah kekaguman di hati Ling-Ling melihatnya. Ling-Ling melihat ada sesuatu yang luar biasa tersimpan di dalam diri seorang Vera. Dia begitu kuat sebagai seorang wanita, tidak seperti dirinya yang begitu lemah. Ling-Ling dan Vera telah menjadi teman ketika dalam tahap latihan. Seringnya Ling-Ling ditenangkan oleh Vera ketika dia menangis karena rindu bersama keluarganya.

            Pada saat latihan Vera mudah sekali mencerna apa yang diajarkan oleh kakek Jerolin. Ling-Ling iri melihat Vera mampu mengendalikan tanaman, mengeluarkan buahan dari tangannya, Ling-Ling sebetulnya mau mendapatkan kekuatan seperti halnya Vera.

            Vera dan Ling-Ling juga pernah melakukan duel, itu merupakan salah satu perintah dari Jerolin, masih teringat betul bagaimana Ling-Ling dikalahkan oleh Vera. Vera mampu menelan semua serangan air yang dikeluarkan Ling-Ling melalui tanaman dari tangannya.

            “Kau tidak bisa menyerang Chlorokinesis element dengan Hydrokinesis Element Ling-Ling, Tanaman akan menyerap air karena itu merupakan salah-satu yang bisa membuatnya tumbuh.. Serang Vera dengan kipas..” Jerolin memberi aba-aba ketika itu. Ling-Ling mengikuti aba-aba dari Jerolin, ia mengeluarkan kipas, dengan keindahan gerak tubuhnya Ling-Ling mengembangkan kipas dan mengayunkannya, puluhan anak panah meluncur ke arah Vera membelah udara dengan kecepatan yang luar biasa. Vera menangkis semua anak panah dengan gading putih, langkah kaki Vera terus ke depan menghampiri Ling-Ling sembari terus menangkis. Tak tinggal diam Ling-Ling kembali menyerang, kali ini hembusan dari kipas Ling-Ling mengeluarkan beberapa pedang, beberapa pedang mampu di tangkis dengan gading putih, namun ada satu yang lolos, tepat di depan wajah Vera, tinggal beberapa senti lagi. Langkah Vera terhenti, hal itu menjadi moment yang menegangkan, Jerolin dan yang lain yang menonton menahan napas. Dan ternyata pedang tersebut mampu ditahan oleh Vera menggunakan rumput merambat yang tiba-tiba muncul dari tanah. Mata Ling-Ling terbelalak, zoodam Vera dan Zoodam Ling-Ling terpukau. Feri, Andet, Kosmo dan Jerolin berdecak kagum.

            “Mampu mengeluarkan tanaman dari tanah tanpa menyebut nama kinesis, itu artinya Vera sudah mencapai level 2 dari Chlorokinesis Element..” Jerolin berkata bangga.

            “Luar biasa, aku saja bahkan belum terlalu mahir dalam mengendalikan kinesis..” Kosmo berkomentar.

            Setelah menangkis serangan Ling-Ling, Vera membalas serangan. Vera memfokuskan diri, menangkupkan kedua tangan di depan dada, lantas tanaman merambat muncul dari tanah di sekitar Ling-Ling dan langsung melilit seluruh tubuh Ling-Ling, Ling-Ling berkutit tak berdaya.

            “Sekarang bantu Ling-Ling..” Kakek Jerolin berkata ke Fly-Fly. Zoodam milik Ling-Ling itupun masuk ke arena, mendekati Ling-Ling. Menggunakan kedua antena di kepalanya  Fly-Fly memotong tanaman merambat di tubuh Ling-Ling.

            Berkali-kali Ling-Ling menyerang dengan hydrokinesis ataupun dengan kekuatan kipas, berkali-kali pula Ling-Ling berhasil dikalahkan, dengan begitu sudah jelas bahwa Ling-Ling benar-benar kalah melawan Vera.

***

            “Aaaaa..” Ling-Ling terpental akibat hempasan dari kepakan sayap Tengu. Sekarang Fly-Fly berganti menghadapi Wanita elang tersebut. Serangan-serangan air dilayangkan oleh zoodamnya Ling-Ling, tentu saja serangan tersebut gagal, karena air yang Fly-Fly keluarkan tersebut berubah menjadi beku.

            Ling-Ling tak mau menyerah, ia bergegas kembali berdiri, melangkahkan kaki, Berlari menghampiri Tengu. Menyerang menggunakan kipas berkali-kali, Tengu terus menangkis dengan tangannya, menghasilkan sebuah ‘dentingan’ seakan besi dihantamkan dengan besi,. Tengu melompat ke atas membelah udara menggunakan kukunya menghasilkan hujan kuku runcing menyirami Ling-Ling, Fly-Fly yang melihat itu cepat bertindak mengeluarkan ombak air menyapu bersih hujan kuku.

            “Berhati-hatilah Ling-Ling..” Fly-Fly berseru.

            Ling-Ling membuka kipas, mengayunkannya, Puluhan anak panah meluncur mengarah ke tengu, untuk kesekian kali serangan semacam itu kembali gagal, Tengu meleburkannya dengan kekuatan angin kencang dari kepakan sayap.

            “Ini tidak akan berhasil.. Bagaimana cara menghadapi wanita elang ini..” Kata Ling-Ling di dalam hati.

            Pertarungan antara Ling-Ling melawan Tengu terus berlangsung begitu lama, Ling-Ling sampai tidak tahu berapa hari sudah terlewati. Dari keempat lainnya hanya Ling-Ling yang melawan musuh paling lama, selain karena Ling-Ling tidak terlalu kuat, musuh yang ia hadapi termasuk musuh tertangguh. Energi wanita bermata sipit dan zoodamnya benar-benar sudah habis. Sebetulnya Ling-Ling termasuk tangguh dalam hal ini, bagaimana tidak, ia tidak makan berhari-hari tapi masih mampu berdiri. Hingga untuk kesekian harinya Ling-Ling benar-benar tak sanggup lagi, ia sudah berkali-kali terpental karena serangan Tengu. Darah dalam tubuhnya seakan sudah membeku, benar-benar tidak ada lagi harapan, Fly-Fly pun tak sanggup lagi melayang walau hanya satu senti.

            “Aku tidak sanggup lagi..” Katanya di dalam hati. Tengu sudah hendak mengakhiri pertarungan, kuku tajamnya bersiap merobek kulit Ling-Ling. Ling-Ling tak sadarkan diri.

***

            “Akhirnya kau sadar..” Kosmo tersenyum. Ling-Ling memegangi kepalanya yang masih sakit, melihat di sekitar. Terlihat laki-laki gemuk yang ia sudah tahu kalau ia adalah Kosmo. Ia sadar bahwa sudah berada di dalam rumah bundar, Ling-Ling mengembalikan ingatan. “Astaga..” ia spontan duduk.

            “Hei, jangan terlalu banyak bergerak. Kau masih lemah..” Kosmo memperingatkan, sembari memegang apel.

            “Kosmo.. Bagaimana kau bisa disini...? Haiyaa.. Kepalaku sakit sekali” Ling-Ling memegang kepala, Matanya mengedar melihat seluruh ruangan, baru sadar kalau ia masih berada di hamparan salju.

            “Wanita elang itu?” Ling-Ling  bertanya.

            “Kha-u then-ang saja…” Mulut Kosmo penuh apel. menelannya. “ketiga jagoan itu akan membereskannya..”

            Ling-Ling berdiri, melihat dari luar jendela, terlihat Vera tengah mengikat Tengu menggunakan tanaman, Feri membantu menahan dengan kerungan tanah. Dari arah lain Andet menyerang menggunakan kekuatan api. Ling-Ling memperhatikan, “Apakah serangan mereka akan berhasil?” tanyanya di dalam hati.

            Rupanya tidak. Tengu wanita elang sudah tidak berada di sana lagi. Vera, Feri dan Andet terkejut. Ling-Ling juga ikut terkejut, Mata Ling-Ling mengedar mencari dimana keberadaan Tengu.

            “DI ATAAASS!!” Ling-Ling berteriak dari kejauhan. Tengu sudah memutar dirinya membentuk semacam puting beliung, bersiap menyerang. Beruntung teriakan Ling-Ling tersebut membantu, Vera, Feri, Andet beserta zoodam-zoodam, mereka cepat menghindar.

            Ling-Ling terbatuk setelah berteriak.

            “Hei.. Kau harusnya istirahat” Kosmo memegangi Ling-Ling. “Kau tidak usah khawatir, mereka itu kuat. Bukankah begitu, Dabo?” Kosmo bertanya ke Dabo.

            “Tentu saja, Mereka jauh lebih kuat dibandingkan kau, Kosmo” Burung kakak Tua itu menjawab. Kosmo melotot.

            “Uhuk..Uhukk.. Haiyaa.. “ Ling-Ling merasa begitu sakit. “Bagaimana kalian bisa sampai kesini, Kosmo? Apakah tugas kalian sudah selesai?”

            Kosmo mengangguk, “Tugas kami sudah selesai, Makhluk-makhluk musuh kami telah menjadi keping bintang hitam. Vera telah membantu aku”

            “Jadi begitu..” Ling-Ling merasa tidak terlalu senang. Vera lagi-lagi telah membuktikan bahwa dirinya lebih hebat. Ling-Ling benci mengakui ini bahwa Vera lebih hebat dari dirinya.

            Kosmo memberikan Apel ke Ling-Ling. Ling-Ling meraihnya, segera melahapnya.

            Ling-Ling merasa sedikit baikan setelah menyantap Apel, ditambah Kosmo telah memberinya minuman hangat. Kosmo memandang Ling-Ling dengan tatapan ‘aneh’.

            “Haiyaa. Kosmo kenapa menatap aku seperti itu?” Ling-Ling membalas tatapan Kosmo. Kosmo segera membuang muka, takut jika anak kepang dua tersebut sadar bahwa dirinya menaruh hati. Terdengarlah suara pekikan Vera dari luar. Ling-Ling sigap berdiri, melihat keluar jendela. Vera, Feri dan Andet termasuk zoodam mereka sudah tak berdaya, Feri dan Lion bahkan sudah beku akibat serangan Tengu.

            “Haiyaa… Kenapa kau tak bantu mereka?” Ling-Ling berkata ke Kosmo. Tanpa mendengar jawaban Kosmo ia sudah berdiri, melangkah keluar. Kosmo yang melihat Ling-Ling sudah berlari, menyusul. Dabo dan Fly-Fly mengikuti.

            “Hydrokinesis Element..” Ling-Ling Langsung berdiri di hadapan Tengu dan segera menyerangnya. Fly-Fly membantu menyerang dengan semburan air. Tengu mengelak, Kosmo memberi serangan dengan kapak, ditangkis oleh tengu menggunakan sayapnya.

            Tengu terbang, menghujani mereka dengan hujan kuku-kuku tajam, Kosmo dan Ling-Ling mengelaki hujan tersebut.

            “Wanita elang ini benar-benar tidak ada rasa lelah nampaknya..” Kosmo meringis. Langsung mengeluarkan element angin mengarah ke Tengu, Tengu membalas serangan dengan angin dari kepakan sayap, bahkan angin dari kepakan sayap Tengu lebih kencang, membuat Kosmo dan Dabo terpelanting.

            Ling-Ling melihat keempat temannya yang sudah tak berdaya. Dalam hatinya ia ingin sekali membantu. Namun Ling-Ling merasa bahwa dirinya itu lemah. Kekuatan Ling-Ling masih berada pada level awal. “Andai saja aku mempunyai kekuatan lebih” Kata Ling-Ling di dalam hati.

            Tengu bersiap menyerang Ling-Ling dari Udara, ia melaju turun hendak mencabik-cabik anak perempuan itu. Untung saja Fly-Fly menyadari itu dan langsung memberikan serangan Semburan air dahsyat. Tengu terpelanting karenanya. Tengu langsung kembali berdiri setelah terpelanting, kembali hendak menyerang Ling-Ling. Kecepatannya kali ini begitu gesit.

            “Awass Ling-Ling!!” Kosmo berteriak.


            Ling-Ling spontan mengeluarkan kekuatan menghentikan pergerakan  Tengu. Kosmo, Vera dan Andet tercengang melihat kekuatan yang dikeluarkan oleh Ling-Ling kali ini. “Apa ini?” Kata Ling-Ling tidak mengerti.

            “Dinding air… Dan dinding tersebut mengurung Makhluk itu.. Jadi inilah level dua dari Hydrokinesis Element.. menakjubkan” Vera berkata.

            “Haiya.. Akhirnya kau mampu mengaktifkan Kinesis Level dua Ling-Ling” Fly-Fly berlonjak senang.
            “Jadi inilah level dua dari Hydrokinesis?” Ling-Ling tersenyum.

            Dinding Air itu bukanlah dinding air sembarangan, dindingnya begitu kuat menahan siapapun yang terkurung disitu. Tengu terus mencoba keluar dengan mencakar-cakar dinding air, napasnya mulai tak beraturan. Tak tahan lagi, ia menjadikan semua air itu menjadi es. Malang, hal itu malah hanya membuat malapetaka bagi dirinya sendiri, Tengu akhirnya tak mampu bergerak lagi. Ling-Ling cepat mengambil kesempatan itu, ia melayangkan beberapa anak panah dari angin kipas. Anak panah akhirnya meluncur ke ke seluruh tubuh Tengu, Dan akhirnya Tengu berubah menjadi keping bintang hitam.

BERSAMBUNG.... EPISODE 12 ADA DISINI

Episode 12 Novel Rainbow Star

*      BANTUAN DATANG-1
           


            Sekujur tubuh Kosmo sudah bermandikan keringat, Dabo juga sedikit kehilangan tenaga dalam menghadapi makhluk yang bernama Kraken. Sudah berjam-jam Kosmo dan Dabo melawan si Gurita raksasa. Selama itu mereka kebanyakan hanya menghindar karena tak berdaya melawan. Kosmo mengikuti apa yang dikatakan oleh kakek Jerolin, ia membentuk bola angin kecil, mengarahkanya ke cincin. Satu buah kapak besar muncul di tangan Kosmo. Dengan gesit kosmo melompat, mengarahkan kapak ke tubuh Kraken, Kraken menangkis dengan tangannya, akibatnya tangan gurita itu terputus. Gurita raksasa berteriak kesakitan.

            “Haha.. Rasakan itu Makhluk gendut” Kosmo sedikit tertawa. Napasnya semakin tak beraturan

            “Kau juga sama gendutnya..” Dabo berkomentar.

            “Setidaknya aku tidak sejelek dia..” Kosmo memecah rasa lelah dengan sedikit gurauan.
            Hanya saja putusnya tentakel Kraken tersebut memancing kemarahan dari si gurita raksasa. Kraken lalu menyemburkan tinta ke sembarang arah. Seluruh tanaman hancur seketika ketika tersentuh tinta dari kraken tersebut. Dabo bertindak cepat, ia membesarkan tubuhnya dan segera membawa Kosmo mengudara. Sedikit tetesan tinta menyentuh kulit Kosmo, Kosmo memekik kesakitan. Mengibas-ngibaskan tangannya.

            Kosmo hendak kembali menyerang, namun masalahnya tenaganya sendiri sudah tidak sanggup lagi menahan. Perutnya yang dari tadi meronta sudah tak mampu menekan rasa lapar, hal itu juga berdampak pada zoodamnya. Akhirnya Dabo kehilangan daya terbang, ia terjun bebas ke bawah.

            “Aaaaaaa!!” Kosmo berteriak. Matanya terpejam mengusir rasa takut. Sejurus berlalu Dabo dan Kosmo sudah berdebam jatuh, seluruh tubuh mereka menjadi basah kuyup. “Aku sangat lapar..” Kosmo terkapar tak berdaya, pandangannya mulai berkunang-kunang, sementara kraken sudah hendak kembali menyerang, tentakel-tentakelnya kembali bersiap menyerang persis di atas tubuh Dabo dan Kosmo. Mata Kosmo membulat, “Apakah ini akhir dari hidupku..!” ia sudah pasrah atas kemungkinan yang akan terjadi. Tentakel-Tentakel Gurita raksasa itu membelah udara menghampiri Kosmo. Beberapa detik berlalu, tinggal beberapa senti tangan raksasa tersebut meremukkan tubuh, dikala mata Kosmo terpejam, jantungnya berdegup cepat dan kencang, nasib baik hadir menemuinya. Kehadiran Vera menyelamatkan hidupnya, tangan-tangan gurita raksasa sudah ditahan oleh lilitan tanaman.

            “Kau baik-baik saja bocah gendut...?” Vera menanyai dari udara sembari mengendalikan Chlorokinesis untuk mengikat Kraken.

            “Dasar lemah!” Grin berkata meremehkan Kosmo dan Dabo.

            Kosmo membuka perlahan katup mata, terlihat samar-samar makhluk hijau dan wanita tomboy di udara. Ia menyadari bahwa itu adalah Vera dan Grin. Bibir Kosmo merekah, “Syukurlah!!” Katanya di dalam hati.

            Kraken tak hanya berdiam diri mengetahui kalau sudah ada yang menyerangnya. Tenaganya yang kuat dengan mudah memutuskan tanaman-tanaman merambat itu. Sekarang ia tidak bernafsu lagi membunuh Kosmo, Vera-lah yang menjadi sasaran berikutnya. Vera cepat menyambar Kosmo dan Dabo terlebih dahulu membawa mereka ke lokasi yang aman, jauh dari Kraken.
           
***

            “Terimakasih Vera..!”

            Vera mengangguk, memberikan buah pisang ke Kosmo. Mata Kosmo berbinar-binar mengambil buah pisang itu, tanpa menunggu lama ia mengupas dan langsung melahap. Keberadaan mereka sekarang sudah jauh dari Kraken, namun masih disekitar rawa-rawa. Mereka duduk di atas batu besar.

            “Kau tahu, ini adalah makanan terlezat yang pernah aku makan.. Bahkan buah pisang pun dapat menjadi makanan yang begitu lezat dikala kelaparan..” Mata Kosmo berembun. “Ha-mphir shaja aku mhati kelhapharhan..” Kosmo berkata sembari mengunyah pisang. Meneguk. “Kau sendiri, bagaimana dengan tugasmu..?”

            “Aku sudah mengalahkan zombie itu.. Sekarang jelaskan padaku, apa kelemahan dari Makhluk gurita tersebut..”

            Kosmopun mengatakan sesuai apa yang ia ketahui dari Kakek Jerolin.

            Setelah Vera mengerti penjelasan dari Kosmo, dan setelah tenaga Kosmo pun sudah kembali bersemangat. Mereka kembali menuju ke lokasi Kraken untuk segera mengalahkan Kraken. Dengan dua kekuatan yang bersatu seharusnya mengalahkan gurita raksasa itu menjadi lebih mudah.
            Setelah sampai, tidak tampak keberadaan Kraken di tempat sebelumnya.

            “Kemana ia pergi..” Selidik Vera.

            “Ia bersembunyi di dalam rawa-rawa..” Jawab Grin.

            Benar saja, tidak lama mereka sampai, Kraken kembali muncul. Makhluk gurita itu sungguh sensitif atas kehadiran manusia. Tidak mau menunggu lama, Vera memainkan Gading putih, dari udara ia mencoba menyerang mulut Kraken. Namun tidak mudah untuk mengenai kelemahan kraken tersebut, delapan tangannya siap menyerang siapapun yang berani mendekat. Tinta racunnya pun menjadi penghalang yang sulit untuk mendekati kelemahannya itu. Kosmo mengeluarkan kapak dari cincinnya, berkali-kali kapak tersebut di ayunkan, tangan Kraken putus beberapa kali. Meskipun putus, tidak berapa lama tangan gurita raksasa itu tumbuh kembali.

            “Makhluk yang sangat menyebalkan..” Vera mendesis. Sesekali ia mengeluarkan kekuatan tumbuhan, namun itu tidak membantu banyak. Kulit-kulit kraken terlalu tebal untuk ditembus oleh runcing ujung tanamannya tersebut. Serangan dari kraken berikutnya berhasil mengenai Vera dan Grin, mereka terkena hantaman tangan Kraken. Vera dan Grin terpental sangat Jauh.

            “Aerokinesis Element..” Giliran Kosmo menyerang. Berhasil. Kraken terpelanting oleh kekuatan angin kencang.

            “Anak gendut itu lumayan juga..” Vera berkomentar. Berdiri kembali, memperbaiki anak rambut. Jubah hijaunya telah basah kuyup.

            Serangan Kosmo barusan hanya membuat tubuh Kraken terpelanting cukup jauh, namun tidak melukainya. Kraken bangkit kembali. Memulai serangan berikutnya, satu tentakel gurita raksasa tersebut mengarah ke Kosmo. Kosmo mengelak. Serangan mengenai air, saking keras serangannya membuat air dan licak berkecipak ke udara, membentuk semacam siring. Tak cukup sampai disitu, tangan lain dari kraken ikut menjadi serangan berikutnya, lagi-lagi Kosmo mengelak. Belum berhenti, serangan bertubi-tubi datang menghampiri Kosmo, untungnya Dabo dan Kosmo mampu menahan serangan itu dengan kekuatan angin.

            Tumbuh-tumbuhan merambat hadir melilit tubuh Kraken. Vera telah mengendalikannya dari jarak jauh. Pergerakan Kraken terhenti. Melihat hal itu Vera cepat menaiki tubuh Grin dan berusaha menyerang mulut Kraken menggunakan senjata pusaka miliknya. Grin cepat mendekati mulut kraken, ketika Vera sudah hampir menyayat mulut kraken, sialnya tinta racun disemburkan oleh Kraken, Vera mengelak. Muncul asap dari pertemuan air dan tinta kraken.

            “Berarti tinta itu benar-benar berbahaya..” Vera berkata dalam hati.

            Lilitan tumbuhan dari Vera tidak bertahan lama, beberapa detik kemudian Kraken memutus leburkan tumbuhan itu. Setelahnya Kraken kembali menghilang, masuk ke dalam air yang tidak seberapa dalamnya tersebut. Vera turun dari punggung Grin, mencari dimana keberadaan dari gurita raksasa. Sejurus berlalu Dabo berteriak “Dibawah..!!”. Kosmo sudah hendak mengelak. Terlambat. Kraken sudah menyerangnya dari bawah dengan putaran layaknya gasing. Kosmo terpental ke atas, Dabo cepat terbang menyambarnya.

            “Kau tidak apa?” Dabo bertanya. Kosmo mengangguk.

            “Kita harus membuat rencana..” Katanya. Kosmo menyuruh Dabo menghampiri Vera. Setelah berada di dekat Vera, Kosmo mengutarakan rencana yang ingin dilakukannya. Vera menyetujui.

            Rencana mulai dilaksanakan. Kosmo terbang menunggangi Dabo menghampiri Kraken, melihat hal itu Kraken cepat menangkap mereka. Kosmo dan dabo sekarang sudah berada di genggaman gurita raksasa tersebut, tanpa menunggu lama lagi Kraken langsung menelan Kosmo dan Dabo.

            “Aaaa!!” Kosmo dan Dabo memekik bersamaan.

            Gigi-gigi yang lumayan besar dan runcing terlihat berjejer, liur berlendir yang amis membalut tubuh Kosmo dan Dabo yang telah bersemayam di dalam mulut Gurita raksasa. Lidah kraken terasa empuk dan licin. Terlihat agak gelap dan terasa hangat disana.

            “Menjijikkan!!” Kosmo mendengus sembari menutup hidung. Beberapa detik kemudian mulut itu bergoyang hebat, tubuh kosmo serasa digoncang-goncang, lalu pijakan serasa memaksa mendorong Kosmo dan Dabo untuk pergi ke bawah, nampaknya Kraken tengah menelan mereka hidup-hidup. Mereka meluncur ke bawah, Kembali mereka berteriak.

Sekarang mereka sudah berada di lambung, dimana air-air menjijikkan bergelinang. Terlihat ada beberapa tulang belulang hewan yang mulai hancur, sekejap tulang-tulang itu juga mulai larut oleh zat asam pencernaan Kraken.

            “Apakah rencanamu ini akan berhasil?” Dabo mulai harap cemas. Sebetulnya ada sesuatu hal aneh terjadi dalam diri Kosmo, kepalanya sedikit terasa berdenyut sakit, Kosmo menghiraukan, kembali melancarkan rencana.

            “Aerokinesis Element..” Kosmo mengeluarkan kekuatan udara. Energi dari kekuatan itu diperbesar sekuat tenaga, membuat perut gurita raksasa itu mengembung semacam balon terlihat dari luar. Kraken mengaung kesakitan. Dabo membantu memperbesar angin di dalam lambung kraken.

            Sementara, di luar sana Vera telah melihat bahwa kraken tengah mengalami penderitaan. Sekarang gilirannya untuk menjalankan tugas, Vera menunggangi Zoodamnya menghampiri tubuh gurita raksasa tersebut. Tangan Kanan Vera telah erat mengenggam gading putih yang tajam. Kraken tengah sibuk akan rasa sakitnya, ia tidak lagi sempat memperhatikan keadaan sekitar. Kosmo yang berada di dalam tak hanya membuat perut gurita raksasa mengembung, ia berkali-kali menyayat lambung kraken menggunakan kapak.

            Tibalah moment yang tepat, mulut gurita raksasa cepat ditebas oleh gading putih tajam milik Vera. Mulut gurita raksasa robek menganga, hingga beberapa detik kemudian tubuhnya meledak dan menjadi keping bintang hitam. Kosmo dan Dabo terpental jauh, mengeluh kesakitan.


            Misi Kosmo dan Vera akhirnya selesai.

Bersambung.. Baca Juga Episode 11 DISINI