Showing posts with label Novelku. Show all posts
Showing posts with label Novelku. Show all posts

Friday, April 28, 2017

Episode 16 Novel Rainbow Star

*      LATIHAN TAHAP KE DUA



            Walaupun dunia telah terselamatkan dari serangan Gavin, bukan berarti dunia telah aman, masih banyak musuh-musuh yang mereka harus kalahkan. Meskipun tidak tahu musuh seperti apa, Jerolin terus mengantisipasi dengan melanjutkan latihan untuk anak-anak pemegang Rainbow star.

            Latihan tahap kedua ini adalah mengembangkan kekuatan mereka. Berdasarkan buku panduan dari Meara, begitu banyak sekali hal-hal yang harus dipelajari oleh mereka.

            Vera, Feri, Ling-Ling, Andet dan Kosmo berbaris di ruangan tempat pertama kali mereka kesini. Para zoodam melayang di samping majikannya masing-masing.

            “Zoodam-Zoodam milik kalian memerlukan istirahat, kesehatan mereka mempengaruhi kesehatan kalian. Tempat istirahat mereka adalah di dalam bintang di kening kalian.

            “Untuk melakukan hal itu kalian harus menenangkan energi dalam kalian terlebih dahulu”
            Semua pemegang Rainbow Star duduk bersila, Jerolin mengarahkan supaya mereka belajar mengatur napas. Beberapa menit mereka mengatur udara masuk. Pelajaran ini sama halnya dengan pelajaran sebelumnya, sehingga tidaklah sulit bagi anak-anak pemegang Rainbow Star itu melakukannya.

            “Bayangkan Zoodam kalian masuk ke dalam kening..”

            Mereka semua membayangkannya, dan berhasil. Semua zoodam bisa masuk ke kening mereka.

            “Dengan begini kalian sudah mampu menyuruh Zoodam untuk masuk ataupun keluar. Mereka juga bisa masuk dan keluar kapan saja dengan  kemauan mereka sendiri. Ketika tenaga dalam kalian sudah menipis di waktu bertarung, kalian bisa mengistiratkan Zoodam di kening supaya para Zoodam menyumbangkan energi mereka..”

            “Latihan untuk hari ini cukup sampai disini, kalian boleh pulang terlebih dahulu. Besok akan kita lanjutkan” Kata kakek Jerolin. Mereka semua mengangguk dan pulang.

            Latihan keesokan harinya pun dimulai. Mereka diajak Jerolin ke lapangan yang penuh rumput hijau rapi. Di tengah sana ada beberapa pijakan dari batang pohon yang berukuruan satu meteran berjejer. Jejeran dari pijakan itu cukup panjang, hal itu memberikan pertanyaan besar bagi anak-anak itu. Apa yang ingin kakek Jerolin lakukan pada pijakan-pijakan itu?

            Jerolin membawa dua ember di tangannya.

            “Di arah sana terdapat sungai..” Jerolin menunjuk ujung barisan pijakan. “Dan kalian harus mengambil air di ujung sana melewati pijakan-pijakan ini dan penuhi ember besar ini..” Jerolin menunjuk ember besar.

            “Ingat! Dalam proses latihan kali ini, kalian tak boleh menggunakan kekuatan untuk menyelesaikannya”

            Kelima pemegang Rainbow star tak percaya atas latihan kali ini. Ini latihan yang sungguh berat, apalagi mengingat mereka tidak boleh melakukan kekuatan.

            “Latihan ini semacam latihan kungfu” Kata Feri di dalam hati. Meskipun ia sering latihan bela-diri tapi ia belum pernah mencoba latihan seperti ini.

            “Haiyaa.. Apakah perempuan seperti kami harus ikut latihan ini, kek?” Ling-Ling nampak tak terima.

            Jerolin mengangguk “Latihan ini berguna meningkatkan tenaga dalam kalian.. Dan latihan ini masih jauh lebih ringan karena kalian akan menghadapi  musuh yang jauh lebih tangguh dibanding Gavin”

            “Aku tidak mau ikut latihan ini.. Dan aku juga tidak mau menerima kekuatan ini..” Andet membuka suara. Seluruh pandangan beralih ke arahnya.

Jerolin terdiam sesaat.

“Mau tidak mau kalian telah terpilih, bisa dikatakan bahwa ini takdir kalian. Jika kalian tidak berlatih untuk meningkatkan dan mengendalikan kemampuan kalian, semuanya akan bertambah kacau.” Jerolin berkata setelah terdiam sejenak.

Yang lain terdiam mendengar perkataan Jerolin, Andet menahan amarah.

            “Silahkan kalian berlatih..” Kata Jerolin, lantas ia pun menghilang.

            “Apakah kita harus mengerjakan ini?” Tanya Kosmo.

            “Akan lebih baik jika pertanyaan apakah diganti dengan kata ‘kerjakan saja’!” Vera sudah terlebih dahulu menyambar dua ember dan menaiki pijakan. Melompatinya selangkah demi selangkah. Ketika sampai di sungai, Vera langsung memenuhi ember dan kembali melangkahi pijakan tinggi. Wanita tomboy itu tertatih-tatih, sesekali ia seakan terhuyung ke bawah dan dengan susah payah, perlahan-demi perlahan akhirnya dua ember air pun sampai, langsung diisikan ke air besar.

            “Kau keren Vera” Seru Feri. Vera turun dan melemparkan ember

            “Sekarang giliran kalian..” Katanya tak memperdulikan pujian Feri barusan.

            Ling-Ling cepat mengambil dua ember itu, ia tak mau tersaingi oleh wanita tomboy ini lagi.

            “Haiyaa.. Aku bisa mengisi ember ini tanpa harus bersusah payah melakukan ini” Ling-Ling memutuskan, ia melempar ember dan mengendalikan air di seberang menggunakan hydrokinesis element. Dalam sekejap ember besar itu sudah terisi penuh (Ling-Ling Lupa kalau ia tidak boleh menggunakan kekuatan kinesis untuk latihan kali ini).

            “Yuhu.. Kau hebat Ling-Ling” Kosmo berseru. Ling-Ling nyengir mengibaskan rambut panjangnya dengan tanda yang hendak ia katakan ‘aku tidak kalah dengan si Vera’.

            Tapi suatu keanehan mulai terjadi. Persis setelah Ling-Ling melakukan itu, Dari bawah tanah tiba-tiba muncul beberapa pohon yang langsung membesar. Guncangan dahsyat menggoyang tanah disitu. Mereka berlima mulai khawatir, Kosmo, Feri dan Ling-Ling terlihat begitu tegang.

            “Apa yang terjadi?” Kosmo Panik.

            Sekejap tempat yang tadinya lapangan telah berubah menjadi hutan. Dan ternyata pohon-pohon itu bukanlah pohon biasa. Pohon-Pohon itu adalah monster yang bisa bergerak. Mereka semua mulai terkepung.

            “Haiyaa... Kakek Jerolin dimana?” Ling-Ling ketakutan.

            Pohon-Pohon mulai bergerak hendak menyerbu. Vera dan Andet sudah cepat bergerak, mereka mengambil senjata pusaka masing-masing. Memotong beberapa dahan pohon.

            “Kita juga harus membantu mereka..” Kata Feri. Dia memanggil Lion dan terbang.

            “Darimana datangnya monster-monster pohon ini?” Ucap Feri, ia mengeluarkan toya dan memukul dahan-dahan pohon bergerak.

            Ling-Ling dan Kosmo ikut bergerak, meskipun sedikit ketakutan mereka tahu bahwa mereka harus melawan. Kosmo mengeluarkan Kapak. Ling-Ling memanggil Fly-Fly, menungganginya.

            Meskipun mereka melawan, tidak berapa lama keadaan mulai tidak terkendali. Pohon-Pohon bergerak semakin banyak. Ling-Ling dan Fly-Fly telah terlebih dahulu terikat oleh akar pohon. Untungnya Vera cepat membantu, memotongi akar-akar itu.

            “Bukankah ini tempat kakek Jerolin? Itu berarti kita bisa pergi dari sini” Kata Vera. Grin sudah keluar dipanggil Vera. Vera menungganginya dan mencoba melarikan diri.

Rencana itu gagal. Sesuatu kembali datang, sekarang dinding kotak muncul dan mengurung mereka.

            “Apa lagi sekarang?” Feri turun dari punggung Lion.

            “Sepertinya ada yang sengaja mengurung kita disini” Kata Lion.

            “Tapi siapa?” Tanya Feri.

Setelah pertanyaan itu terlontar, semua Zoodam tiba-tiba menghilang. Mereka kembali terkejut untuk kesekian kalinya. Mereka tak sempat untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, karena seluruh pohon-pohon sudah kembali menyerang. Kelima pemegang Rainbow Star bersiap mengeluarkan kinesis masing-masing. Tapi semuanya gagal melakukannya, kekuatan kinesis mereka tak bisa dikeluarkan.

            “Kekuatan kita tidak bisa keluar?” Mata sipit Ling-Ling membesar.

            “Sepertinya dinding ini menyerap energi dalam kita” Vera berkata sembari mengelak dari serangan monster pohon.

            “Kita lawan mereka tanpa kekuatan itu..” Andet berkata, menebas beberapa pohon. Yang lainnya mengangguk.

***

            Gavin yang telah berhasil kabur dari serangan Jerolin dan para pemegang Rainbow star mengalami luka yang cukup parah. Ia kembali ke lokasi persembunyiaannya di tempat antah berantah. Seseorang yang mengenakan jubah putih keluar dari mulutnya. Dengan kekuatannya, Gavin disembuhkan. Gavin berterima kasih.

            “Apakah kau punya rencana lain?” Pemakai jubah putih bertanya.

            Gavin menunduk (Sebagai penghormatan), “Tentu saja tuan. Aku punya banyak rencana..” Gavin berkata.

            Sementara Gavin menyiapkan rencana barunya. Para pemegang Rainbow Star masih mengalami kesulitan di sana. Mereka menghajar beberapa monster pohon. Berkali-kali pula mereka mendapat serangan. Kosmo dan Ling-Ling telah terpental beberapa kali, tanpa energi dalam mereka berdua memang yang paling lemah.

            “Kita harus menghancurkan dinding ini..” Andet berkata sedikit mundur, mengatur napas yang mulai tersenggal. Tanpa banyak perkataan lagi, Vera sudah terlebih dahulu menebas dinding menggunakan gading putih.

            “Tapi ini sangatlah keras” Katanya.

            “Aku akan menghalangi mereka, kalian hancurkan dinding itu” Feri berkata. Memanjangkan tongkat menyerang kumpulan monster pohon sendiri. Mereka mengangguk, langsung berbalik, mencoba menghancurkan dinding.

            “Dalam keadaan seperti ini aku sebenarnya membutuhkan kau, Lion” Kata Feri di dalam hati, “Kenapa kau tak menjawab kata hatiku seperti biasanya.. Dimana kau!”

            Beberapa pohon berhasil ditumbangkan oleh Feri, meskipun beberapa kali juga ia terkena hantaman. Feri terus mencoba mengalihkan perhatian monster pohon.

            “Dinding macam apa ini? Seperti besi..” Kosmo kelelahan.

            “Dinding ini pasti punya titik lemahnya” Andet mengedarkan pandangan. Memikirkan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan dinding ini. Tak perlu waktu yang terlalu lama Andet sepertinya menemukannya.

            “Semua ini pasti ada hubungannya dengan perintah kakek Jerolin” Pikirnya.

            “Kalian tetap disini..” Andet langsung berlarian diantara pohon-pohon. Feri terus menghalangi monster pohon. Setelah sampai, Andet mengambil ember dan mengisinya dengan air. Kembali berlarian. Ia melemparkan air itu ke dinding. Terjadilah sesuatu.

            “Dugaanku benar.. Kalian semua cepat ambil air dan lemparkan ke dinding itu” Andet berteriak. Mereka mengangguk, bergegas mengambil air dengan apa saja. Vera dan Andet mendorong ember besar yang telah terisi air penuh. Berat, tapi dengan gotong royong mereka mampu membawanya. Mereka langsung menyiramkan air ke arah dinding. Dinding itupun mulai terkikis dan meleleh terkena semburan air.

            “Yeahhh... Berhasil” Ling-Ling berlonjak girang. Sedangkan Feri terpental jauh oleh Pohon Monster. Beruntung Vera menahannya dengan lilitan tumbuhan.

            “Kekuatanku kembali lagi..”

            Yang lainnya juga mencoba. “Benar. Kekuatanku juga kembali” Kata Kosmo yang telah membuat satu pohon monster terpelanting. Dan energinya kali ini jauh lebih kuat.

            “Hydrokinesis Element! Wall” Ling-Ling mengucapkan kinesis level duanya, monster-monster itu terkurung di dalamnya.

            “Hanya tinggal kau yang belum mengaktifkan kinesis level dua, Kosmo” Dabo keluar dari kening Kosmo. Zoodam-Zoodam yang lain juga keluar dari kening pemiliknya masing-masing.

            “Fly-Fly !! Aku pikir aku tidak bisa bertemu denganmu lagi..” Ling-Ling langsung memeluk kupu-kupu bersayap air miliknya.

            “Sekarang tidak ada alasan lagi untuk kalah melawan mereka..” Vera berkata penuh semangat. Ia sudah memanjangkan tanaman runcing untuk menusuk beberapa pohon monster yang terkurung di dinding air. Pohon-Pohon itupun hilang. Feri, Andet dan Kosmo juga tak mau ketinggalan, mereka merasa kalau energi dalam mereka semakin kuat. Dengan kekuatan masing-masing mereka menghajar monster pohon. Satu persatu pohon monster pun menghilang.

            Beberapa jam kemudian.

“Haiyaa.. akhirnya selesai juga” Ling-Ling terhenyak ke tanah. Yang lainnya juga merasa lega, ikut terduduk di tanah. Jerolin muncul di hadapan mereka.

      “Latihan tahap ke dua kalian sudah selesai dikerjakan” Katanya tersenyum.

            Mereka menoleh satu sama lain. Hening sejenak. Tersenyum. Baru mengerti bahwa semua ini sudah direncanakan oleh kakek Jerolin.

Baca Juga Episode sebelumnya DISINI

Saturday, April 8, 2017

Episode 15 Novel Rainbow Star

*      MENGHADAPI GAVIN – 2



Ukuran monyet itu sebetulnya masih jauh lebih kecil dibanding patung gorilla, hanya saja monyet itu menjadi musuh yang tangguh karena ia bukanlah sebuah patung yang hanya diam semata. Sementara itu tenaga dalam keempat pemegang Rainbow Star sudah mulai terkikis untuk melakukan kinesis. Untunglah usaha Vera membuahkan hasil, kosmo Mulai sadarkan diri. Vera tersenyum lega.

      “Kerja bagus Vera..” Kakek Jerolin berkata bangga. Sedangkan Ling-ling yang melihat itu semakin bertambahlah rasa irinya, karena Vera rupanya tak hanya kuat, tapi ia bisa diandalkan.

      Kosmo tiba-tiba muntah, ia mengeluarkan lendir-lendir hitam. Zoodam milik Kosmo pun mulai sadarkan diri, meskipun begitu keadaan mereka masih begitu lemah.

      “Kalian istirahat saja dulu disini…” Vera berkata. Berdiri. Siap membantu menghadapi monyet raksasa.

***

            Monyet raksasa itu begitu tangguh dan lincah. Setiap hentakan kakinya menimbulkan guncangan-guncangan hebat. Tanah yang tadinya lapang dan hijau sebagian telah hancur akibat ulahnya. Feri, Vera, Ling-Ling, Andet dan Jerolin cukup kewalahan dalam menghadapinya. Serangan-serangan mereka Nampak tak membuat monyet raksasa tersebut akan kalah. Sementara itu tenaga dalam mereka benar-benar tinggal sedikit lagi karena menghadapi ribuan monyet barusan. Keempat pemegang Rainbow star hanya menyerang menggunakan senjata pusaka.

            “Nampaknya Gavin melakukan ini untuk mengundur waktu, kalian semua langsung saja kesana.. Urusan monyet raksasa ini biar aku yang menghadapinya. Kau bisa membuat jalan melalui jalur tanah, Feri..” Jerolin berkata sembari mengelak dari serangan monyet raksasa. “Karena tidak akan bisa melewati monyet raksasa ini melalui jalur udara”

Feri mengangguk, menyuruh Lion untuk membuat jalur tanah. Lion tanpa diperintah kedua kali langsung menggali lubang. Semua pemegang Rainbow star memasuki lubang, kecuali Jerolin, karena Monyet raksasa pasti akan mengejar jika tidak ada yang menghalanginya.

            Beberapa lama setelah menggali Lubang, Lion Keluar. Feri dan yang lainnya keluar dari tanah. Lion mengecil dan kembali terbang ke samping Feri. Sekarang Vera, Feri, Ling-Ling dan Kosmo telah sampai di hadapan patung gorilla – Kosmo sendiri sudah sembuh, tanaman obat yang diekstrak Vera benar-benar membantu banyak. Dan ternyata, dilihat dari jarak dekat patung Gorilla raksasa tersebut jauh lebih besar. Beberapa orang membatu disitu, Mereka semua bersembunyi di belakang batu-batu tersebut.

            “Selanjutnya apa..?” Feri bertanya pelan.

            “Kita hancurkan patung itu..” Andet menjawab sembari mengeluarkan pedang.

            Celaka, pembicaraan mereka didengar oleh Monyet-Monyet sebelum Andet dan yang lainnya membuat suatu rencana. Monyet-monyet mulai turun menyerbu bagaikan air bah. Mau bagaimana lagi, mau tidak mau mereka harus menghadapi monyet-monyet itu terlebih dahulu sebelum menyentuh patung gorilla.

            “Apapun yang terjadi jangan sampai melukai orang-orang itu..” Andet sudah meloncat, mengeluarkan api ke arah monyet. Beberapa monyet  itupun hangus terbakar. Yang lainnya ikut menyerang dengan sisa kekuatan terbatas. Selain Kosmo, Kosmo merasa bahwa energinya bertambah dua kali lipat setelah meminum obat dari Vera. Suara monyet riuh memenuhi langit, Vera berusaha mengamankan orang-orang yang telah menjadi batu dengan mengumpulkannya ke satu tempat menggunakan kekuatan tanaman agar tak ada korban.

            Feri memainkan toya dengan begitu lihai, beberapa monyet terpelanting karena tongkat dari feri. Tongkat itu diputar cepat menjadi pertunjukan yang luar biasa. Dari semua pemegang Rainbow Star Feri memang yang paling apik dalam seni bela dirinya. Tidak heran, karena sebelumnya laki-laki remaja keren ini memang sudah ikut pencak silat sebelumnya, itulah mengapa Feri sangat senang saat tahu bahwa ia mempunyai kekuatan ‘tak masuk akal’ itu.

            Sementara itu Jerolin tengah kewalahan menghadapi monyet raksasa, berkali-kali ia terpental akibat pukulannya. Jerolin tidak terlalu mempunyai kemampuan tinggi dalam bertarung, namun ia terus mencoba untuk mengalahkan monyet raksasa itu. Jerolin kembali berdiri setelah berkali-kali terpental, merubah diri menjad kucing, mengaung galak menampakkan gigi-gigi runcing. Melompat ke bahu monyet raksasa, Jerolin menggigit bahu monyet raksasa. Monyet meraung kesakitan, tangannya yang besar lantas dipukulkan ke arah Jerolin,  Jerolin kembali terpental untuk kesekian kalinya. Monyet raksasa melangkah mendekat untuk menghajar Jerolin lagi. Jerolin terengah-engah, rasa-rasanya ia tidak akan sanggup lagi untuk melawan. Tinggal Beberapa langkah lagi kaki monyet raksasa menginjak tubuhnya, Jerolin sudah pasrah.

            “Paling tidak aku sudah berhasil melatih para pemegang Rainbow Star..”Jerolin sudah pasrah jika monyet raksasa itu akan membunuhnya.

            Disaat kaki Monyet raksasa hampir menyentuh tubuh Jerolin yang sudah pasrah, seakan tidak ada harapan lagi. Seseorang yang tidak dikenal langsung menerjang monyet raksasa, terjangannya itu begitu dahsyat sampai-sampai monyet raksasa langsung mati dengan hanya satu kali tendangan. Mata tua kakek Jerolin membesar melihatnya.

            Terlihatlah satu orang pemuda berdiri. Menghampiri Jerolin, membantu tubuh tua Jerolin untuk berdiri.

            “Luar biasa.. Tendanganmu barusan benar-benar luar biasa..” Jerolin berkata penuh takjub.

            “Lefi.... Nama saya Lefi, kek” Katanya tersenyum ramah.

            “Ohh..Terima kasih Lefi karena sudah menyelamatkan kakek tua ini”

            “Sama-sama kek.. Sudah tugas saya membantu orang-orang baik seperti kakek... Saya harus pergi, kek. Ada banyak yang harus saya kerjakan..” Pemuda itu langsung berlari tanpa Mendengar pertanyaan dari Jerolin.

            Mata tua Jerolin terus menatap punggung pemuda itu yang sudah hilang. Ia tidak mengenal siapakah pemuda itu dan darimana asalnya.

***
           
            “Bocah-Bocah penganggu..” Gavin mulai geram akan kehadiran anak-anak pemegang Rainbow Star. Ia merubah diri menjadi Gorilla raksasa dan mulai menghantam salah satu dari anak-anak pemegang Rainbow Star.

            “LINGGG-LINGGG” Kosmo berteriak. Ling-Ling tergeser beberapa meter. Mulutnya mengeluarkan darah terkena hantaman Gavin.

Kosmo mendengus kesal, ia mengeluarkan kapak besar. Menghantam tangan Gorilla raksasa, tangan raksasa itu Robek. Gavin menjerit kesakitan. Tak hanya itu, Kosmo langsung mengeluarkan kinesisnya. Angin kencang ikut merobek-robek kulit gavin. Meskipun begitu, tak berarti Gavin kalah. Gavin menghantamkan kakinya ke arah kosmo, tanah-tanah retak karenanya. Kosmo langsung mengelak, menunggangi Dabo.

            Tidak berapa lama Jerolin datang.

            “Dabo… Antarkan aku ke atas..” Kata Jerolin. Dabo turun dan Jerolin Melompat ke punggungnya, duduk di  belakang Kosmo.  “Kau bisa mendekat ke arah Patung Gorilla?” Tanya kakek Jerolin.

            “Tentu..”

Dabo langsung melesat ke arah patung. Sialnya, ketika di atas monyet raksasa terbang menghadang mereka, menggigit ekor Dabo. Kosmo mengendalikan angin untuk membuat monyer terbang itu terpental. Setelah sedikit terpental tak membuat Monyet raksasa menyerah, ia kembali mengejar Dabo. Dabo mempercepat terbangnya dan terjadilah aksi saling kejar-kejaran.

            “Pegangan yang erat..” Dabo berteriak.

Sebelum Kakek Jerolin dan Kosmo siap, dabo sudah mempercepat laju terbangnya membuat tubuh Jerolin dan Kosmo hampir terjatuh. Dabo menuntun laju Monyet raksasa ke arah patung gorilla. Dan berhenti persis di kepalanya.

            “Ayo monyet jelek, kau harus mempercepat laju terbangmu yang lambat..” Dabo memanas-manasi monyet terbang. Monyet terbang mendengus dan mempercepat lajunya. Ketika monyet raksasa merentangkan tangan hendak menangkap Dabo, Dabo mengelak. Dan monyet raksasa berdebam menghantam kepala patung gorilla, lalu terjatuh. Dabo, Jerolin dan Kosmo tertawa.

            “Cepat arahkan aku ke kening patung itu..”

            “Siap..” Kata Dabo dan mulai terbang mengarah ke kening patung gorilla yang sebentar lagi selesai.

            “Jangan bergerak..” Kata Jerolin.

            Monyet-Monyet yang melihat itu mulai melempari dengan tanah-tanah. Dabo mengelaki.
            “Jangan bergerak..!!” Kata Jerolin lagi.

            “Tidak bisa, monyet-monyet jelek itu melempari kita.

            “Biar aku yang urus itu. Kau hanya tenangkan dirimu..” Kosmo mengendalikan angin, melempar balik lemparan Monyet-Monyet. Jerolin mengeluarkan bintang hitam, dan mengangkatnya. Cahaya hitam mulai muncul, mengarah ke kening patung gorilla, perlahan cahaya itu membesar. Mulailah terjadi sesuatu pada patung gorilla, sedikit-demi sedikit terjadi retakan dan beberapa waktu kemudian, patung gorilla itu mengalami guncangan dahsyat.

            “Tutup telinga kalian..” kata Kakek Jerolin.

            Sebelum Kosmo menutup telinga ledakan dahsyat terjadi. Suaranya memekakkan telinga, guncangan besar terjadi, Perlahan seluruh monyet menghilang. Orang-Orang yang berubah menjadi patung perlahan kembali menjadi manusia.

            “TIDAKK!!!” Gavin berteriak kesal.

            Andet, Vera, Feri, Ling-Ling mengerahkan tenaga yang tersisa. Menyerang Gavin yang lengah. 4 Kinesis berbeda mengarah ke Gavin -- . Gorilla raksasa terpelanting jauh, menyusut menjadi manusia lagi. Mulut Gavin berdarah, seluruh tubuhnya mengalami luka-Luka. Andet, Vera, Feri dan Ling-Ling Terduduk lemas.


            “Akan kubalas Semua Ini..” Gavin meringis kesal dan menghilang.  Melarikan Diri.

Bersambung... BACA Episode 14 DISINI

Episode 14 Novel Rainbow Star

*      MENGHADAPI GAVIN
           


            Seluruh keping bintang hitam akhirnya berhasil disatukan, terjadi pancaran sinar yang begitu menyilaukan mata ketika kakek Jerolin menyatukan seluruh keping.

            29 hari telah terlewati, tidak ada pergantian malam di bumi karena pengaruh kejahatan dari Gavin. Waktu mereka untuk menyelamatkan dunia kurang dari satu hari, hanya tinggal beberapa jam saja.

            Dari jarak jauh, dapat terlihat patung itu. Patung gorilla hasil kerja keras monyet-monyet anak buah Gavin sudah hampir selesai. Monyet-Monyet itu sudah sibuk menyempurnakan bentuknya. Patung gorilla raksasa dengan dua tangan gagah di depan, berwarna hitam pekat, dan bermulut terbuka dimana gigi-gigi runcing terlihat menyeramkan itu seakan mampu menelan bulat-bulat sebuah gunung setinggi apapun juga, membuat mata dari kelima anak pemegang Rainbow star terbelalak dan bergidik ngeri.

            “Astaga..” Kosmo menelan ludah melihatnya. Wajah Kosmo terlihat pucat, tapi warna pucat itu nampak bukan seperti pucat ketakutan. Ada hal lain yang membuat wajah anak laki-laki gemuk itu terlihat lemah.

            “Apa yang akan terjadi jika patung gorilla itu selesai?” Andet bertanya ke kakek Jerolin.

            “Ia akan mengisap seluruh roh manusia yang terkurung di dalam patung... Kalau itu terjadi, artinya tamatlah nasib bumi... Bumi akan dikuasai oleh seluruh gorilla..”

            “Haiyaa.. Jangan sampai, jangan sampai hal itu terjadi..”

            Andet meremas tangan erat, kebenciannya kepada Meara masih bersemayam di hatinya.
            Tanpa banyak berkata lagi mereka pun berangkat menuju ke tempat kediaman Gavin. Jerolin menunggangi Lion bersama dengan Feri.

            Dari udara terlihat perkumpulan monyet rapat di bawah, seakan kumpulan semut. Sialnya pula, ketika dalam perjalanan, segerombolan monyet terbang datang menyergap. Dabo mendapat serangan mendadak, membuat Dabo hilang konsentrasi untuk terbang, akibatnya Dabo mengecil dan mereka berdua terjatuh. Dan rupanya Kosmo dan Dabo telah hilang kesadaran.

            “Kosmo... “ Ling-ling berteriak, menyuruh Fly-Fly untuk menyusul Kosmo dan menyelamatkan mereka. Tidak perlu diperintah kedua kali Fly-Fly meluncur cepat ke bawah membelah udara. Yang lainnya menyusul sembari terus melawan monyet-monyet terbang menggunakan kekuatan masing-masing.

            Beruntung Kosmo mampu disambar oleh Fly-Fly dan Ling-ling berhasil menangkap Dabo.

***

            “Apa yang terjadi..?” Feri bertanya setelah Kosmo diletakkan ke darat. Kosmo dan Dabo tidak sadarkan diri, tubuh mereka perlahan menghitam. Kakek Jerolin memeriksa, menyentuh wajah gembung Kosmo, melihat tangan Kosmo.

            “Dia terkena racun milik kraken..” Kakek Jerolin akhirnya berkata.

            Rupanya disaat Kosmo  menghadapi Kraken waktu itu, tinta racun telah bersarang di dalam darah Kosmo melalui percikan kecil itu. Karena Kosmo tidak sadarkan diri, akibatnya merembet pula pada Dabo.

            “Haiya..Lalu apa yang harus kita lakukan..?” Ling-Ling sedikit panik. Ling-Ling memang sudah semakin akrab dengan mereka semua, kecual Andet. Walaupun demikian sesungguhnya Ling-Ling menaruh hati pada pria berambut panjang dan bersikap dingin itu.

            “Kita tinggalkan saja dia..” Andet berkata datar. Kembali mengeluarkan pedang hendak menyerang monyet-monyet yang mulai kembali mendatangi mereka. Dan kali ini jumlahnya tidak sedikit, tapi ribuan ekor, memenuhi tanah lapang berumput disitu.

            “Haiyaa..” Ling-Ling gemetar, perhatiannya telah beredar ke gerombolan monyet. Gerombolan monyet semakin merapat.

            “Walau bagaimanapun, kita tidak bisa meninggalkan Kosmo. Mengorbankan satu nyawa seorang teman, sama halnya telah membunuh seluruh penduduk bumi..” Kakek Jerolin berkata sembari memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Kosmo.

            “Aku tahu sebuah tanaman yang mampu menghilangkan racun... Namun aku perlu konsentrasi tinggi untuk menghadirkannya, dapatkah kalian melindungi kami..?” Vera berkata.

            “Kalau urusan itu serahkan kepada kami, dan urusan Kosmo kami serahkan kepada kamu, Vera..” Feri berkata. Mengeluarkan toya dan siap menyerang.

Feri, Ling-Ling, Andet dan Jerolin berdiri dari setiap sudut melindungi Vera dan Kosmo yang berada di tengah. Vera berkonsentasi penuh, pikirannya mencoba mengingat bagaimana rupa tanaman obat itu.

            Andet, Kosmo, Jerolin, dan Ling-Ling sudah mulai menghadapi ribuan monyet. Mereka menyerang menggunakan kekuatan masing-masing. Jerolin merubah dirinya menjadi kucing, dan memberikan gigitan serta cakaran ke arah monyet-monyet, gigitan dan cakaran itu bukanlah cakaran dan gigitan biasa, kuku dan gigi-gigi tajam kucing tua itu mampu membunuh satu monyet hanya dengan beberapa kali serangan.

            Andet menebaskan pedang, meskipun Andet belum terlalu mampu mengendalikan petir dalam pedang itu, ia berhasil membunuh puluhan monyet dalam sekali tebasan, petir menyambar ke banyak musuh. Tak hanya dengan pedang, kekuatan api juga Andet hembuskan untuk melawan monyet-monyet yang seakan tak pernah habis.

            Feri menembakkan bola-bola tanah, tak hanya mengandalkan kekuatan tanah Andet pun lincah memutar toya, menghantam monyet-monyet itu. Sejauh ini belum ada diantara kumpulan monyet yang mampu mencakarnya.

            Ling-Ling tak mau ketinggalan, kekuatan air yang dikeluarkannya telah berhasil membunuh beberapa monyet. Kipaspun ia mainkan, anak-anak panah dari hembusan kipas juga menembus tubuh dari beberapa monyet.

***

            Kehadiran monyet-monyet seakan tak pernah henti. Setelah beberapa monyet dibunuh dan menghilang, beberapa ekor monyet kembali berdatangan. Monyet-monyet kecil itu memang bukanlah musuh yang tangguh bagi mereka. Tapi menghadapi musuh secara terus menerus seperti ini membuat tenaga dalam mereka mulai terkuras.

            Sementara itu Vera masih berkonsentrasi untuk mengeluarkan tanaman obat. Bukan perkara mudah bagi Vera dalam menghadirkan tanaman obat itu. Karena ini kali pertama Vera mencoba mengeluarkan tanaman yang berbeda.

            Bulir-bulir keringat mulai membasahi pelipis wanita tomboy itu. Kedua tangan ia tangkupkan. Dan akhirnya beberapa lembar daun tanaman obat muncul di tangannya.  “Aku membutuhkan air..” Vera berkata dalam hati. Ia ingat bahwa masih menyimpan air dalam botol kecil di kantongnya yang diambil di dalam piramida. Vera mengambilnya, dan memasukkan daun obat ke dalam air. Ketika obat itu baru hendak dimasukkan ke dalam mulut kosmo. Suara tertawa (jahat) terdengar dari atas, semuanya mendongak, perlawanan gerombolan monyet terhenti sejenak, bersujud. Di atas sana terlihat satu ekor monyet besar bersayap, namun bukan itu yang menjadi perhatian, terutama bagi kakek Jerolin. Melainkan seseorang yang berada di punggungnya, dialah Gavin si Gorilla berkepala tiga yang tengah berwujud kakek tua berpakaian hitam sepenuhnya. Angin berhembus kencang tiba-tiba datang seakan menyambut kehadiran makhluk tersebut. Tatapan matanya sangat menyeramkan.

            “Makhluk-Makhluk menyedihkan.. Percuma saja kalian melakukan apapun.. Dunia ini sudah tamat..” Gavin berkata dengan nada berat.

            “Apakah dia yang bernama Gavin?” Andet berkata dalam hati.

            “Gavin, kenapa kau melakukan semua ini..?” Jerolin bertanya. Sudah lama ia tidak bertatapan langsung dengan teman lamanya itu.

            Gavin memandangi sejenak sahabat lamanya itu, dan membuka bibirnya “Ada banyak hal yang tak kau kau pahami, Jerolin. Kau merupakan hewan yang berbeda denganku. Kau adalah kucing rendahan, tidak mempunyai keluarga. Sementara aku, aku mempunyai keluarga..” Gavin melompat dari punggung monyet raksasa terbang, “Dan Meara mengacaukan itu semua..” Gavin berkata penuh kebencian setelah sampai di bawah.

            Seakan disambar petir, Jerolin sungguh terkejut mendengar perkataan sahabat lamanya itu. Bukan tentang penghinaan Gavin, tapi tentang kalimat terakhir Gavin.

            “Mengacaukan..? Apa maksudmu dengan mengacaukan..?” Jerolin tidak mengerti.
            “Semenjak Meara menempelkan bintang di keningku, semenjak itulah cerita dalam hidupku berubah.. Semua keluargaku menjauh karena rupaku yang berbeda.. Mereka pergi meninggalkanku dengan alasan ketakutan..”

            Jantung Andet berdenyut kencang saat mendengarkan perkataan Gavin barusan, itu semua sama seperti yang pernah ia rasakan. Yah, Andet merasa kalau nasib mereka sama. Andet merasa kalau perasaan dirinya dengan Gavin mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama membenci Meara.

            Sementara di pikiran Ling-Ling, Vera dan Feri penuh kebingungan, bukankah kakek Jerolin mengatakan kalau Gavin melakukan semua ini karena keserakahan? Kalau yang dikatakan Jerolin adalah salah, itu berarti Gavin melakukan ini semua demi membalas dendam.

            “Jika Gavin melakukan semua ini benar karena balas dendam, akan lebih sulit menghadapinya.. Biasanya kekuatan si pembalas dendam akan jauh lebih kuat dibanding kekuatan si serakah.. “ Pikir Feri.

            “Itulah mengapa berhati-hatilah dalam menyakiti seseorang..” Lion menyahut dalam bisikan hati.

            “Oi-Oi kenapa kau ikut-ikutan bicara...” Feri berkata kesal di dalam hati.

            “Ini bukan salah aku Feri, kau merupakan satu-satunya pemegang Rainbow Star yang mampu berbicara dengan zoodam melalui kata hati. Itu menjadi resiko untukmu..”

            Feri mengembuskan napas panjang, tak merasa senang akan kelebihannya yang satu ini.

            “Sebentar lagi... Sebentar lagi impianku akan terselesaikan... Kau lihat Jerolin, bisakah kau lihat, Patung Gorilla itulah yang akan mengantarkanku pada impian. Tinggal beberapa jam lagi, manusia dibumi akan musnah.. Ha..ha..ha “ Gavin tertawa penuh kemenangan. Namun tidak beberapa lama tawa itu dibungkam, rupanya ada sebuah tongkat telah menembus lengan kirinya tanpa ia sadari. Mata Jerolin penuh kemarahan, pandangannya beralih ke arah yang telah menyerangnya. Adalah Feri yang melakukannya, Feri memanjangkan tongkat, tersenyum meremehkan.

            “Masih mau tertawa, hah..?” Feri mengangkat kedua alis, menarik toya kembali. Ling-Ling menahan tawa menyaksikannya. Gavin melirik sekejap tangannya yang telah banjir darah. Berteriak kencang penuh kemarahan, ia langsung merubah dirinya menjadi gorilla berkepala tiga.

            “Haiya.. Kau memacing kemarahannya Feri..” Ling-Ling bergidik ngeri, tidak ingin tertawa lagi.

Lautan monyet mulai beraksi kembali, menyerbu mereka.

            “Kau lanjutkan menyelamatkan Kosmo, Vera. Kami akan melindungimu..” Kakek Jerolin berkata. Maju menghadapi Gavin. Vera mengangguk, konsentrasi kembali untuk menyembuhkan Kosmo. Ia memberikan ramuan ke mulut kosmo, lantas keduatangannya ia letakkan di kening Kosmo, mengandalkan energi Aerokinesis untuk mempercepat proses ramuan itu dalam menyembuhkan. Grin ikut menyumbangkan energinya ke zoodam milik Kosmo.

            Seluruh Zoodam lainnya memperbesarkan ukuran, membantu menghadapi ribuan monyet.

            Sementara itu Jerolin dan Gavin bertarung secara sengit, Jerolin menyadari bahwa dirinya tidak akan sanggup melawan Gavin. Terbukti ketika ia pertama kali menyerang, Gavin sudah terlebih dahulu mengantamkan pukulan ke kucing tua itu. Namun Jerolin tak mau menyerah, ia tak bisa terus membiarkan kejahatan yang dilakukan oleh Gavin. Jerolin tidak bisa mengenai sedikitpun kulit Gavin, ia hanya mampu menangkis. Hingga serangan berikutnya Jerolin terkena tinjuan, ia terpental jauh membelah udara.

            “Kakeekkk!!”  Pandangan  Feri mengarah ke kakek Jerolin, hanya saja ia lengah, karena itu monyet di belakangnya sudah  nyaris mencakar, beruntung Lion menolong dengan kekuatan Terrakinesisnya. Feri yang melihat kakek Jerolin cepat membuat dinding tanah untuk menahan. Jerolin melenguh kesakitan. Bintang hitam terpelanting dari kantongnya, Jerolin kembali meraih bintang itu, tangannya gemetaran. “Bintang hitam ini harus cepat di letakkan di kening Gavin..” katanya.

            Gavin sudah berhadapan dengan Feri, sama halnya seperti Jerolin barusan, ia pun kewalahan menghadapi makhluk berbulu lebat itu, berulang-ulang Feri melontarkan bola-bola tanah, namun hal tersebut gampang sekali ditangkis oleh tangan gempal si Gorilla berkepala tiga itu. Gavin mengaung ganas, ketiga mulutnya menampakkan gigi-gigi runcing. Sebagai balasan serangan oleh Feri barusan, Gavin mulai melakukan sesuatu... Dari ketiga mulutnya memancarkan bongkahan cahaya merah. Tidak berselang lama, bongkahan cahaya ia lontarkan ke udara. Tiga cahaya itu melayang tinggi. Turun perlahan, dan menyentuh tiga dari ribuan monyet. Terjadi sesuatu pada ketiga monyet itu, ketiganya menyatu dan akhirnya menjadi seekor monyet raksasa. Ribuan monyet kecil hilang semuanya, Gavin tertawa penuh kemenangan dalam wujud manusianya kembali.

            “Aku tidak akan menghabiskan waktu bersama kalian..” Ia meloncat ke punggung monyet terbang lagi, “Silahkan kalian semua bermain-main besama monyet peliharaanku yang satu itu..” Lantas Gavin terbang menjauh..


            Ling-Ling, Feri Andet, dan Jerolin tercengang melihat monyet raksasa itu.

BACA episode 13 DISINI